Nikmatnya nasi bungkus di warung tepi jalan

Anda pernah makan nasi bungkus di warung warung tepi jalan? Atau barangkali di warkop, atau mungkin terminal? Jika iya, maka bisa jadi anda adalah orang yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan sekitar dan tak pilih pilih soal makanan.

Saat masih kecil, saya sering diajak ayah saya pergi keluar kota. Ke Surabaya, untuk kulakan barang dagangan di pasar Turi. Sering kali singgah di terminal bungurasih, ataupun tambak oso. Ayah saya tak pernah mengajak saya makan siang di warung bagus ataupun restoran. Saya diajak makan nasi bungkus di warung warung tepi jalan, di pedagang setempoh tanah di pinggiran terminal bungurasih.

Banyak yang bilang kalau ayah saya pelit karena untuk anaknya, diberikan makan nasi bungkus pinggir jalan.

Namun yang saya rasakan adalah “petualangan”, kemampuan bertahan hidup, kemampuan beradaptasi, kesederhanaan, dan yang paling penting adalah bahwa hidup ini tak perlu bermewahan, dan agar tidak menjadi orang yang rewel sehingga sebenarnya dalam hidup ini tak perlu terlalu menggerutu, sungguh kenikmatan yang diberikan Allah ini berada dimana mana dan tak terhitung banyaknya.

Latihan makan nasi bungkus justru membuat cita rasa makan saya bersahabat dengan masakan sederhana yang justru begitu nikmat. Alhasil, saya pun tak begitu antusias dengan masakan ala resto yang berwarna warni campuran ini dan itu.

Saya ambil kesimpulan, kesederhanaan dalam masakan merupakan pembangkit selera makan yang bagus. Buktinya? Nasi Ayam geprek yang begitu populer. Cuma ayam goreng tepung, digeprek dengan cabe dan bawang putih. Nikmatnya luar biasa. Apalagi? Sego sambel! Dimana mana di surabaya dan di kota kota lain, nasi penyetan dan sejenisnya adalah yang paling banyak dicari.

Ini mungkin hanya bersifat subyektif karena dipengaruhi latar belakang hidup saya dan juga lingkungan. Kalau orang jepang, bisa jadi nasi penyetan tak begitu menggugah selera, mungkin ramen lebih mereka sukai.

Anda?